<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Omigod, am i a BITCH?</title>
	<atom:link href="http://originalxin.wordpress.com/2008/04/24/omigod-am-i-a-bitch/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://originalxin.wordpress.com/2008/04/24/omigod-am-i-a-bitch/</link>
	<description>It's not about writing beautifully. It's about express freely</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Dec 2008 00:09:00 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: chris</title>
		<link>http://originalxin.wordpress.com/2008/04/24/omigod-am-i-a-bitch/#comment-13</link>
		<dc:creator>chris</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 14:43:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://originalxin.wordpress.com/?p=10#comment-13</guid>
		<description>gak bisa disebut komoditi yur, karena gak bisa disepakati harganya. bisa jadi untuk si wanita standar kebahagiaan itu adalah cincin berlian, sedangkan menurut si lelaki, harga yang pantas hanyalah sebatas diajak makan di Pizza Hut. Hohoho....

Makin geje..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>gak bisa disebut komoditi yur, karena gak bisa disepakati harganya. bisa jadi untuk si wanita standar kebahagiaan itu adalah cincin berlian, sedangkan menurut si lelaki, harga yang pantas hanyalah sebatas diajak makan di Pizza Hut. Hohoho&#8230;.</p>
<p>Makin geje..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: xntia</title>
		<link>http://originalxin.wordpress.com/2008/04/24/omigod-am-i-a-bitch/#comment-12</link>
		<dc:creator>xntia</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 10:49:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://originalxin.wordpress.com/?p=10#comment-12</guid>
		<description>&quot;tapi juga PEDULI atas kebahagiaan pasangannya&quot; --&gt; bukankah kebahagiaan di-trade dengan kebahagiaan? ketika kita dibahagiakan, kita jadi ingin membahagiakan dan sebaliknya.
Berarti, kebahagiaan adalah komoditi??

Udah ah, tambah GeJe**</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;tapi juga PEDULI atas kebahagiaan pasangannya&#8221; &#8211;&gt; bukankah kebahagiaan di-trade dengan kebahagiaan? ketika kita dibahagiakan, kita jadi ingin membahagiakan dan sebaliknya.<br />
Berarti, kebahagiaan adalah komoditi??</p>
<p>Udah ah, tambah GeJe**</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: chrisibiastika</title>
		<link>http://originalxin.wordpress.com/2008/04/24/omigod-am-i-a-bitch/#comment-11</link>
		<dc:creator>chrisibiastika</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 22:18:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://originalxin.wordpress.com/?p=10#comment-11</guid>
		<description>Err... Mo berpanjang lebar ah sekali-sekali.. biasanya nyampah sih..

Setauku, pelacur memang (mungkin) bisa menikmati pekerjaannya, tapi gak pake perasaan. Mereka terbiasa memisahkan perasaan dan profesionalisme soalnya kalo gak gitu mereka akan sakit hati. Itu ada cerita di salah satu novel yur. Aku lupa judulnya, punya si julian. Hehehe. Dan mereka dibayar untuk itu. Sifatnya temporary pula.

Kalo istri itu kan diikat dengan komitmen dan perasaan berperan penting di dalamnya. Dan tentunya bersifat permanen. Di dalamya ada cinta, kepedulian, tanggung jawab, keinginan berbagi, dan lain lain (alah kayak dah pernah aja)

Singkatnyaaaa... Beda seorang istri/pacar ama seorang pelacur itu adalah di segi tanggung jawab. Kalo seorang suami/pacar, dia gak hanya memberikan nafkah (untuk yang sudah berkeluarga), tapi juga PEDULI atas kebahagiaan pasangannya. kalo para pria yang make pelacur, mana peduli dia setelah ML si pelacur puas apa enggak. Kesakitan apa enggak. yang penting nafsunya tersalurkan. Udah. itu yang namanya prostitusi. 

Begindaaaang.... *dilempar sepatu*</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Err&#8230; Mo berpanjang lebar ah sekali-sekali.. biasanya nyampah sih..</p>
<p>Setauku, pelacur memang (mungkin) bisa menikmati pekerjaannya, tapi gak pake perasaan. Mereka terbiasa memisahkan perasaan dan profesionalisme soalnya kalo gak gitu mereka akan sakit hati. Itu ada cerita di salah satu novel yur. Aku lupa judulnya, punya si julian. Hehehe. Dan mereka dibayar untuk itu. Sifatnya temporary pula.</p>
<p>Kalo istri itu kan diikat dengan komitmen dan perasaan berperan penting di dalamnya. Dan tentunya bersifat permanen. Di dalamya ada cinta, kepedulian, tanggung jawab, keinginan berbagi, dan lain lain (alah kayak dah pernah aja)</p>
<p>Singkatnyaaaa&#8230; Beda seorang istri/pacar ama seorang pelacur itu adalah di segi tanggung jawab. Kalo seorang suami/pacar, dia gak hanya memberikan nafkah (untuk yang sudah berkeluarga), tapi juga PEDULI atas kebahagiaan pasangannya. kalo para pria yang make pelacur, mana peduli dia setelah ML si pelacur puas apa enggak. Kesakitan apa enggak. yang penting nafsunya tersalurkan. Udah. itu yang namanya prostitusi. </p>
<p>Begindaaaang&#8230;. *dilempar sepatu*</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
