Pernah baca puisinya Robert Frost-The Road not Taken? It goes like this ..
Two roads diverged in a yellow wood, And sorry I could not travel both And be one traveler, long I stood And looked down one as far as I could To where it bent in the undergrowth; Then took the other, as just as fair, And having perhaps the better claim, Because it was grassy and wanted wear; Though as for that the passing there Had worn them really about the same, And both that morning equally lay In leaves no step had trodden black. Oh, I kept the first for another day! Yet knowing how way leads on to way, I doubted if I should ever come back. I shall be telling this with a sigh Somewhere ages and ages hence: Two roads diverged in a wood, and I-- I took the one less traveled by, And that has made all the difference.
It tells us about choosing. Sebenarnya hidup kan berisi pilihan2, ya ga? Mulai dari the very simple one sampe pilihan rumit yang nentuin masa depan. Mulai dari milih mau makan apa hari ini sampe milih mau menikah ato ga menikah (okay, untuk yang terakhir saya belum memutuskan).
Sewaktu saya di Singapore, berencana untuk kerja disana karena mengikuti kemauan papa, saya tiba-tiba dipanggil wawancara pekerjaan yang SANGAT saya ingini disini, di Indonesia. Saya-tentu saja-ingin balik and grab the chance tapi tante saya ga mengijinkan.
She insisted me to stay. I insisted back to return. Dia bilang saya tidak punya otak dan tidak berpikir jangka panjang. Saya bilang dia terlalu pushy dan “hey, this is my life anyway”. Dia bilang beribu-ribu orang ingin kerja di Singapore, saya-yang sudah punya kesempatan itu-malah membuang mutiara di depan mata demi air sungai kotor (gak begitu tepatnya, but yeah somekind of that). Walopun akhirnya terbukti kalo air sungai itu mengandung diamond, tetep saja waktu itu saya gambling. Dia bilang saya keras kepala dan ga menuruti nasihat orang yang sudah lebih tahu pengalaman hidup. Tentu saja saya ga bermaksud menentang dia, saya cuma ingin memilih sesuai hati saya (very intuitive, yup i am).
Saat memilih jurusan untuk kuliah juga begitu, I did insist to take Chemical Engineering, mama saya lebih suka saya masuk Kedokteran, and so do all big family. Kalo papa sih, terserah saya, dia selalu bilang “terserah kamu, yang penting apapun konsekuensi pilihan kamu ya kamu mesti jalani” (I love u Dad for being very supportive of whatever pilihan2 yang saya buat
). Keluarga besar bilang saya ini aneh2 saja, ngapain juga kuliah di Teknik Kimia, ke Jogja lagi, jauh dari orang tua. Mereka bilang saya stubborn.
But look at me now. Saya sarjana. Cum Laude. Saya bisa bertahan melewati onak dan duri (duh, bahasanya) Teknik Kimia : tugas2 tanpa perikemahasiswaan, penelitian, Kerja Praktek, Tugas Akhir, nangis2 darah karena subject yang ga bisa dimengerti (termo 1, i hate it!). I could cope.
Coba kalo saya di Singapore ato di Kedokteran, pasti sulit dikit aja keadaannya, saya akan bilang “kalian sih maksa2 saya disini. Saya kan sebenarnya ga suka”.
Menjalani apa yang kita pengen jalani will give us strenth to carry on. Sesulit apapun keadaannya, kita punya tekad untuk buktiin kalo pilihan kita ga salah.
Moral of the story, jangan pernah takut untuk memilih sesuai kata hati (bukan orasi pilkada-red). Walopun orang bilang kamu anomali, walopun kamu ngambil “the one less traveled by“.. Jangan pernah takut untuk berbeda. It’s ur personal freedom anyway..
Tidak perlu menjadi orang yang mengikuti arus. Melakukan sesuatu hanya karena semua orang melakukan itu.
“Just choose and go ur own way..”
chris said
Itu personal freedom, nak. Kata frank sinatra,
“to say the things that you truly feel
and not the word of someone who kneels
the record shows
i chose the blows
and did it my way… ”
*tetep ya jadulnya*
xntia said
iya say..duh, mana ya frank sinatra-ku?
oh iya, dah ku DEL. Bodohnya!!
(langsung berencana utk beli CDnya begitu punya kelebihan uang)