Bangun pagi ini jam 9.30 pagi membuat saya ga mungkin dikategorikan sebagai anak perempuan baik-baik (“anak perempuan baik-baik itu bangunnya pagi” ato “anak perempuan baik-baik itu kamarnya rapi” ato bahkan “anak perempuan baik-baik itu omongnya halus”. Pertanyaan saya : apa cuma anak perempuan yang wajib bangun pagi2? kenapa kalo anak laki bangunnya siang, kamarnya jorok, omongannya kasar ga dikata-katain? kenapa, kenapa oh kenapa?)
eniwei, postingan ini bukan tentang itu (trus ngapain tadi nulis ttg itu, xin?). Postingan ini mau menceritakan kemarin, yang dengan bangganya saya proklamirkan sebagai hari-pengalaman-pertama. (Malam pertama, xin? ya ngga dunk, ngeres ah!). Kemarin tu pengalaman pertama saya makan sushi dan melihat om Gilbert Lumoindong secara langsung.
Call me norak, call me ndeso, call me mangkage. Yup, I am!^^ (eniwei, pada ga tau ya arti mangkage? hehe, makanya belajar bhs Manado;p)
Jadi ceritanya kemarin saya dan sepupu saya pergi ke gerejanya om Gilbert utk ibadah disana (ya iyalah buat ibadah, emang mo berenang?). Ternyata, om Gilbert sangatamatlucubangetsekali. Oh, oh, oh, saya tersepona dan tertawa sepanjang khotbahnya=D Tapi tentu aja ada isinya. Kemarin dia ngomong tentang 8 kunci mendaki gunung sukses. Kata dia kesuksesan itu bisa diibaratin gunung, bagus dilihat dari jauh tapi susah dan capek dijalani (yup, betul sekali!). Satu quote yang dia bilang yang sangat mengena :
“Impossible is not a fact. It’s just an opinion”
Dulu orang bilang :”ah, ga mungkin orang bisa ke bulan”, “Ga mungkin orang bisa terbang”, “Kamu mau kuliah Teknik Kimia, xin? ga mungkin. Be realistislah. Kuliah kedokteran aja di Manado”, et cetera, et cetera.
Sekarang orang dah bisa ke bulan, dah bisa terbang, saya juga dah jadi sarjana Tekkim dan bakal kerja yang sesuai dengan pleasure saya. Intinya tidak ada yang tidak mungkin. Yang dibutuhin cuma kerja yang lebih keras, tekad yang lebih kuat dan doa. That’s it!
Oh ya, tentang sushi (tuh kan jadi lupa, saking seriusnya ngomong).
So, Sushitei is one of the most must-visit restaurant.
Sushi-nya enak bgt. Super-duper-triple-yummy. Dan harganya juga ga mahal2 amat. Yah, setaralah dengan kenikmatan yang begitu luar biasa ituh (mupeng mode on).
Rasa daging mentahnya kerasa banget, apalagi seaweed yang dipake untuk ngikat sushi, hmmmm…Cuma satu yang saya ga suka : wasabi. Entah kenapa benda ijo itu ga cocok dengan lidah saya. Pedesnya beda dengan pedes orang Manado ato orang Indonesia. Begitu makan, pedesnya langsung ke kepala. Serasa seribu saraf2 saya dipenuhi oleh rasa pedas dan panas. Tapi herannya sepupu saya dengan enjoynya mencelup-celup sushinya ke kecap asin yang dikasih wasabi (saya sih puas dengan kecap asin dan chili pepper).
Walopun begitu, tetep aja, maknyusss!! TOP deh buat orang yang punya ide bikin sushitei, manajernya, tempatnya, suasananya, rel berjalannya (apa sih istilahnya?) dan para karyawan yang oh-so-japanese itu!
Keep up d’good work!
PS : Setelah saya nulis tentang ini, saya bisa dapat diskon 10% seperti para pemegang Citibank ga pak? (kedip-kedip mata sama pak operational manager)
chrisibiastika said
Wew.. Saya radarada jijay ama sushi.. Di Amsterdam pernah ditraktir di resto sushi all you can eat yang harganya 25 euro per orang, tapi sumprit saya gak menikmati sama sekali.. Hahahaha.. Yah, lidah saya lebih cocok ama sate usus angkringan atau indomie goreng telor.
xntia said
hahahaha..sate usus? jadi inget pak urip.
eh, apa kabarnya pak urip ya?