Berawal dari rasa bosen karena dah 2 minggu ini gak ngapa-ngapain di Jakarta (ternyata benar kita bisa kesepian di tengah hiruk pikuk metropolitan), saya pun menelpon seorang teman.
Pertamanya sih, ngobrol biasa, tapi lalu berujung ke saya menceritakan wawancara kemarin (yang mana saya sudah lulus and disuruh medical check-up
).
“Tau ga, aku kemarin ditanyain kenapa milih bekerja di bidang oil and gas bukan di bidang lain, trus aku jawabnya : “sama seperti orang laen yang menemukan hidup mereka berarti dengan menolong orang lain seperti dokter dan guru, saya-sebagai insinyur-merasa hidup saya akan lebih berguna kalau saya bekerja di energy field because energy is vital for human life” “
Di ujung telepon terdengar suara ketawa, dia bilang :
“Ya ampun cyn, kamu tuh culun banget”
Saya nda terima dibilang culun. Saya idealis, ya! tapi bukan culun. Apa saya salah kalo alasan saya bekerja karena hati bukan karena uang ato teknologi?
Pak, anda mungkin lebih dulu lulus. Udah bekerja 5 tahun, sudah mencicipi kerasnya hidup, sudah tau realitas tapi nda berarti anda punya hak untuk bilang saya culun.
Anda itu pembunuh idealisme, tau?
Gimana perasaan para mahasiswa kalo saat mereka lagi berjuang melawan korupsi, tiba-tiba pejabat pemerintah ngomong “Dek, kalian tuh culun banget, ngga ada gunanya kalian demo. Korupsi itu sudah mendarah daging. Apapun yang kalian lakukan ga mungkin memberantas korupsi sampai sehabis-habisnya”?
Gimana kalo anda sebagai KPPA (anda dulu KPPA kan?) melobi anak baru utk masuk di kepengurusan PMKT dan nanya “Motivasimu apa dek jadi pengurus?” dan dia bilang “karena aku terbeban sama jiwa2 di Teknik kak, aku pengen lebih banyak orang ngenal Tuhan”, apa anda akan bilang “dek,dek,culun sekali kamu. PMKT itu isinya rapat-rapat aja”. Nda kan?
Tidak ada salahnya memiliki mimpi dan idealisme. Memiliki motivasi untuk bekerja karena kita merasa pekerjaan kita bisa memberi nilai tambah bagi orang lain dan negara lebih baik 1000 kali daripada orang yang bekerja demi uang.
Oh ya, saya ingat, anda juga bilang, “tapi korporasi besar itu lebih banyak membawa keuntungan ke negaranya sendiri bukan ke Indonesia”
Talk to yourself! Anda juga kerja di korporasi besar. Jangan cuma omong doang. Kalo kamu memang punya pendapat seperti itu harusnya kamu kerja di BUMN atau bikin perusahaan sendiri yang incomenya masuk ke negara.
Saya heran, banyak sekali orang yang pintar berbicara tapi ga ngelakuin apa yang dia yakini benar malah melakukan apa yang dianggapnya tidak benar demi materi.
Okay, enough said. Saya sudah mengatakan apa yang mau saya katakan.
alvonsius said
tes tes …
humm … anu … hemm … bukan saya kan???
hehe, seperti yang kubilang, apapun yang dirimu yakini benar ya diyakini saja, selama itu tidak merugikan orang lain…
yuk ah mari … ^^
xntia said
Bukan anda kok pak. Tenang aja..
curlyche said
waduh,telat tau blog barumu..
sepertinya aku tahu,siapa dia. bener ga?
xntia said
emang sapa dia?*wink*
Okto Silaban said
Ha..ha..ha cyntia.. cyntia.. Kamu nih kok culun banget sih..
*nyiram bensin ..
Yah gitulah Cyn.. Aku pernah mengalami juga masa – masa idealisme menjunjung tinggi penggunaan software legal.. Terus di kampus *semester 2 tuh..* bikin selebaran propaganda tentang betapa bodohnya kita menggunakan software2 bajakan..
Saya ditertawakan waktu itu..
Sekarang ketika ada orang yg *baru niat* melakukan hal yang sama.., saya cuma tersenyum kecil.. Susah mo bilang apa.. Pahitnya saya sudah dapet.. Enaknya?? Gak ada..
Duh.. kok nyambung gini..
Okto Silaban said
tuhh.. kan.. sampe aku salah tulis
maksudnya *kok gak nyambung gini..*
xntia said
@ okto : saya speechless, ga tau mau ngomong apa..
sama dunk kita orang2 idealis.
ntar kalo dah kerja gmn ya? apa akan terpapar dgn virus realitas dan meninggalkan mimpi2 dan idealisme? tsaahhh…*apa siy*
kerti said
Permisi mbak, mau “urun rembug”…
Aku juga punya pengalaman yang mirip sama mas Okto Silaban. Sekarang, menilik kembali pengalaman itu, satu hal yang aku pelajari adalah bahwa kita boleh (baca: harus!) punya idealisme dan mimpi, tapi kita juga harus bisa menghadapi kenyataan.
Saya salut pada orang-orang yang meskipun ditertawakan tetap saja berjuang mengejar mimpinya. Walau pada akhirnya mimpi itu kandas karena realitas, bukankah proses mengejar idealisme mimpi itu sendiri akan mengajari kita tentang banyak hal?
Hanya pendapat pribadi…
Btw, salam kenal ya, aku Kerti, adik kelasnya Alvonsius a.k.a. Gosonk. Dulu sempat ikut PMKT tapi cuma 1x, hehehehe…
chrisibiastika said
Setuju ama komen di atasku. Quote ku beberapa hari ini yur, diambil dari sebuah film…”
Dan aku suka sekali ama quote ituh.
xntia said
@ Kerti n Chris : absolutely agree!